KONSENTRASI KRITIS MISEL (KKM) DAN ENTALPI (ΔH)
DARI GELATIN PADA BERBAGAI SUHU
Surfaktan atau
zat aktif permukaan (surface active agent) adalah senyawa kimia yang dapat
mengaktifkan permukaan zat lain yang awalnya tidak dapat berinteraksi. Dari
aspek kimia, surfaktan dijelaskan sebagai senyawa yang mempunyai struktur
bipolar, dengan bagian kepala bersifat hidrofilik atau polar dan bagian ekor
bersifat lipofilik atau non polar. Apabila surfaktan dimasukkan dalam sistem
yang terdiri dari air dan minyak, maka gugus polar akan mengarah ke fase air
sedangkan gugus non polar akan mengarah ke fase minyak. Surfaktan yang memiliki
gugus polar lebih kuat cenderung membentuk tipe minyak dalam air (o/w),
sedangkan jika gugus non polar yang lebih kuat maka cenderung membentuk tipe
air dalam minyak (w/o). Atas dasar ini, surfaktan dikelompokkan menjadi dua,
yaitu surfaktan yang larut dalam air dan surfaktan yang larut dalam minyak. Secara
umum, surfaktan merupakan suatu zat yang ditambahkan pada cairan untuk
meningkatkan dispersi atau pembasahan dengan menurunkan tegangan permukaan
cairan. Surfaktan mempunyai kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan
(surface tension) suatu medium dan menurunkan tegangan antarmuka (interfacial
tension) antar dua fase yang berbeda derajat polaritasnya, seperti pada cairan
dengan cairan, padatan dengan cairan, ataupun gas dengan cairan. Sifat utama
dari surfaktan adalah kemampuannya dalam membasahi (wetting ability),
menghomogenkan, menyebarkan ataupun mendispersi (dispersing/spreading ability),
merekatkan dan juga membantu penetrasi (penetrating ability). Penggunaan
surfaktan terbagi menjadi tiga golongan sebagai bahan pembasah (wetting agent),
bahan pengemulsi (emulsifying agent) dan bahan pelarut (solubilizyng agent)
(Asril et al., 2022).
Misel adalah partikel
koloid dengan ukuran dalam kisaran 5-100 nm. Misel terdiri dari amfifil atau
bahan aktif permukaan (surfaktan), dimana sebagian besar kepala merupakan
kelompok-hidrofilik dan ekor hidrofobik. Pada konsentrasi rendah dalam. medium
berair, amfifil berupa monomer dalam larutan, namun ketika konsentrasi
meningkat, agregasi dan self-assembly berlangsung sehingga misel terbentuk.
Konsentrasi di mana misel yang terbentuk disebut sebagai konsentrasi misel
kritis (CMC). Pembentukan misel dipicu oleh penataan ekor hidrofobik yang
mengarah ke keadaan. yang menguntungkan entropi (Winarti, 2013).
Air memiliki tegangan permukaan yang
tinggi, tetapi ketika surfaktan dilarutkan ke dalam air maka tegangan perumkaan
dari larutan itu akan turun sampai tercapainya suatu konsentrasi. Konsentrasi
dimana tegangan permukaan turun disebut konsentrasi kritis misel. Konsentrasi
kritis misel (kkm) dapat ditentukan dari ketika sejumlah kecil dari surfakatan
ditambahkan ke dalam air, ion-ion surfaktan atau molekul-molekul pada surfaktan
terorientasi pada gugus hidrofil ke dalam air dan gugus hidrofob (menjauhi
air). Surfaktan dapat dilarutkan dalam minyak maka gugus hidrofobik akan ikut
dengan minyak dan gugus hidrofil mejauhi minyak. Larutan menjadi jenuh dalam
keadaan normal, tetapi pada kebanyakan surfakta, apabila dilarutkan pada cairan
maka akan membentuk misel. Misel adalah kumpulan anion surfaktan atau molekul
surfaktan yang berkumpul menjadi satu bentuk, dengan gugus hidrofil diluar dan
terikat pada air sedangkan gugus hidrofobik berada didalam untuk membentuk
globulan-globulan minyak. Zat terlarut yang terdapat pada cairan dapat
menaikkan atau menurunkan tegangan permukaan bergantung pada sifar zat
terlarutnya. Penurunan tegangan permukaann oleh sabun dapat menyebabkan
perkuasan film air dengan pembentukkan gelembung atau busa (Yazid, 2005).
Termodinamika pembentukan misel
menunjukkan bahwa entalpi pembentukannya dalam system air mungkin positif
(endotermik). Kkm menunjukkan bahwa perubahan entropi yang menyertai
pembentukkan pati positif pada temperature kamar. perubahan entalpi (entropi)
yang positif walaupun molekul itu berkumpul menunjukkan adanya kontribusi
pelarut pada entropi dan molekul akan lebih bebas bergerak setelah molekul
terlarut terkumpul menjadi kumpulan kecil. Larutan surfaktan dalam air
menunjukkan perubahan sifat fisik mendadak pada daerah pengemulsi yang akan
melarutkan senyaw asecara normal tidak larut dalam pelarut yang digunakan. Hal
ini terjadi karena spesies yang tidak mudah larut dapat dimasukkan kedalam inti
misel dimana spesises tersebut terlarut didalam sebagian besar pelarut oleh
kebalikan kepala gugus yang berinteraksi dengan baik pada spesises pelarut. Misel
hanya terbentuk apabila konsentrasi surfaktan lebih besar daripada KKM dan
temperatur sistem lebih besar dari pada temperatur kritis misel. KKM dapat
diamati dari kurva yang diskontinyu dari sifat fisik sistem sebagai suatu
fungsi dari jumlah surfaktan yang ditambahkan. Misel dapat terbentuk secara
spontan karena keseimbangan antara entropi dan entalpi. Didalam air efek
hidrofobik merupakan gaya pendorong pembentukan misel, meskipun faktanya
pengumpulan molekul surfaktan menurunkan entropinya (Sukardjo, 2004).
Misel merupakan koloid sabun asam
organic yang molekulnya mempunyai ujung hidrofobik (tidak larut dalam air) dan
ujung hidrofilik (larut dalam air). Kehadiran misel mungkin akan meningkatkan
kelarutan hidrokarbon dalam air dengan bertindak sebagai penghubung antara
radikal OH pada ujung hidrofilik dan molekul hidrokarbon pada ujung hidrofobik.
Prinsip mengenai sabun digunakan untuk meningkatkan hidrokarbon. Misel biasanya
berbentuk globular dan secara garis besar berbentuk speris, akan tetapi dapat
pula berbentuk elipsoida, silinder, dan bilayer. Misel adalah struktur bulat
dengan diameter sekitar 5 nm yang terbentuk dari monomer-monomer surfaktan.
Bentuk dan ukuran misel merupakan fungsi dari geometri molekular dari molekul
surfaktan tersebut dan kondisi larutan seperti konsentrasi surfaktan,
temperature, pH, dan kekuatan ionic. Proses pembentukan misel disebut
miselisasi (Selley, 1985).
DAFTAR PUSTAKA
Asril, M., Lismaini, M.S. Ginting,
E.Suryanti, Wahidah, C. Wati, M. Aksan dan E. Joeniarti. 2022. Pengelolaan
Hama Terpadu. Medan: Yayasan Kita Menulis.
Selley, R.C. 1985. Unsur
Geologi Petroleum. Malaysia: Universitas Teknologi Malaysia Skudai.
Sukardjo. 2004. Kimia
Fisika. Yogyakarta: PT. Rineka Cipta.
Winarti. 2013. “Sistem Penghantaran
Obat Tertarget, Macam, Jenis-jenis Sistem Penghantaran dan Aplikasinya”. Stomatognatic
(J.K.G. Unej). Vol. 10(2): 75-81.
Yazid, E. 2005. Kimia
Fisika Untuk Paramedic. Yogyakarta: Andi Press.
Komentar
Posting Komentar